Biografi MT Haryono – Pahlawan Revolusi

Partai Komunis Indonesia (PKI) memang telah gagal mengadakan pemberontakan pada tahun 1926 karena pemerintah Kolonial Belanda telah memberangus mereka sebelum pemberontakan me­letus. Setelah Indonesia merdeka, PKI kembali melan­carkan aksi pemberontakannya di Madiun dengan di­pimpin Muso pada tanggal 18 September 1948. Sem­pat mereka mengumumkan berdirinya Repu­blik Indonesia. Namun beberapa hari kemudian pem­berontakan ini dapat dipatahkan. Madiun dapat direbut oleh TNI pada tanggal 30 September 1948. Muso ditembak mati dalam pelariannya.

Seperti hendak ‘membalas dendam’, tanggal 30 September dijadikan waktu untuk kembali memberon­tak 17 tahun kemudian. Alasan utama mereka adalah adanya Dewan JenderaI yang hendak mengadakan kudeta pada pemerintah In­donesia yang sah.

Sebelum Dewan Jenderal ‘bergerak’, mereka harus men­dahuluinya. Salah seorang Jenderal yang termasuk da­lam Dewan Jenderal yang harus dising­kirkan PKI adalah Mayor Jenderal M. T. Haryono.

M.T. Haryono dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, tanggal 20 Januari 1924. Setelah menempuh pendidikan di ELS ( Europese Lagere School – Sekolah Dasar Belanda), ia melanjutkan sekolahnya ke HBS. M.T. Haryono nampaknya berkeinginan menjadi dokter, hingga ia melanjutkan pendidikannya di Ika Dai Gakko (Sekolah Tinggi Kedokteran) pada jaman pendudukan Jepang. Namun keinginannya itu tidak tercapai, ketika Jepang harus meninggalkan Indonesia setelah kalah perang dengan pasukan Sekutu. Indonesia pun meng­umumkan kemerdekaannya.

Jiwa patriotismenya membawa M. T. Haryono bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan mendapat pangkat Mayor. Kefasihannya dalam tiga bahasa asing : Belanda, Inggris dan Jerman, yang ditunjang dengan kepintarannya dalam berdiplomasi membuatnya ditunjuk sebagai Sekretaris Delegasi Publik Indonesia pada perundingan Indonesian Belanda. M. T. Haryono kemudian juga ditunjuk sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara yang lantas menjadi wakil tetap pada Kementrian Peranan Urusan Gencatan Senjata. Ketika Mohammad Hatta menjadi ketua Delegasi Republik Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) yang bersejarah itu, M.T. Haryono ditunjuk menjadi Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.

Karier militer M.T. Haryono terus naik dalam lingkungan staf Angkatan Darat yang membawanya menjadi Atase Militer Republik Indonesia di negeri Belanda pada tahun 1950 dan akhirnya pada tahun 1964 menduduki jabatan sebagai Deputy III Menteri/ Panglima Angkatan Darat dengan pangkat Mayor Jenderal.

Malam menjelang pagi 30 September 1965, beberapa orang dari pasukan Cakrabirawa bersenjata lengkap memasuki rumah Mayor Jenderal M.T. Har­yono secara paksa dan membawanya ke ‘markas besar’ mereka di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur, di dekat Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma. Bersama korban penculikan lainnya, Mayor Jenderal M, T. Haryono disiksa di luar batas-batas peri kemanusian sebelum akhirnya diberondong peluru hingga menghembuskan napas terakhirnya. Jenazahnya kemudian dimasukkan ke dalam sumur tua sebelum akhirnya ditimbun.

Tragedi berdarah di pagi 30 September 1965 telah merenggut Mayor Jenderal M. T. Haryono dari negara dan keluarganya. Tiga hari kemudian, 3 Oktober 1965, sumur tua tempat ‘mengubur’ jasadnya diketemukan. Hari ber­ikutnya jasadnya bersama jasad-jasad korban ke­biadaban PKI lainnya diambil untuk seterusnya dima­kamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada tanggal 5 Oktober 1965. Pemerintah Indonesia menganugerahi M.T. Haryono kenaikan pangkat satu tingkat, menjadi Letnan Jenderal Anumerta, dan mengangkatnya sebagai Pahlawan Revolusi setelah pemakamannya.