Biografi Valentino Rossi – The Doctor of MotoGP

Valentino Rossi tumbuh di keluarga pecinta balap motor. Ayahnya yang seorang pembalap era 70-an, Graziano Rossi, sudah mulai mengajari Rossi untuk mengendarai motor sejak kecil.

Ia mengawali karirnya sebagai pembalap motor sejak usia 13 tahun dengan menjuarai berbagai kejuaraan Regional. Bakatnya yang cemerlang membuat ia masuk Italian Sport Production Championship 1994. Rossi kemudian berhasil mengikuti kejuaraan Eropa 1995 di kelas 125 cc dan finish di peringkat 3.

Rossi mengawali debutnya di kejuaraan dunia lewat Malaysia Grand Prix 1996. Saat itu ia berhasil finish di posisi ke-9 dengan mengendarai Aprilia. Tak berapa lama kemudian ia berhasil menjadi nomor 1 di Grand Prix Brno Republik Ceko dan dianugerahi penghargaan Pembalap Termuda untuk kelas 125 cc. Selanjutnya Rossi berhasil naik ke kelas 250 cc dan mengantongi 9 kemenangan.

Karir Rossi semakin melejit saat ia memutuskan meninggalkan Aprilia dan beralih ke Honda untuk kelas 500 cc di tahun 2000. Bahkan sang juara dunia Michael Doohan dan kepala teknisinya, Jeremy Burgess, dengan senang hati menjadi mentor Rossi untuk tahun pertamanya di Honda. Ia kemudian berhasil menjadi juara dunia 2001 kelas 500 cc. Rossi kemudian naik kelas ke MotoGP dan menjadi juara dunia 2002 dan 2003 bersama Honda.

The Doctor kemudian membuat keputusan yang mengejutkan bagi pecinta MotoGP menjelang musim 2004. Ia meninggalkan tim Honda dan beralih kepada Yamaha. Kepindahannya ke Yamaha tentu saja membuat banyak orang menyayangkannya. Publik pesimis ia bisa menjadi juara dunia lagi mengingat prestasi Yamaha saat itu tidak terlalu bagus. Namun Rossi membungkam semua komentar negatif tersebut. Ia berhasil finish di posisi pertama Grand Prix Afrika Selatan mengalahkan pesaing terkuatnya Max Biaggi yang saat itu mengendarai Honda. Rossi bahkan berhasil mengangkat nama Yamaha dengan kemenangannya berturut-turut selama musim 2004 dan 2005.

Penggemar Inter Milan ini harus mengalami kekalahan di musim 2006 usai finish di posisi kedua di bawah Nicky Hayden. Meski begitu ia terus mengukir berbagai kemenangan di kejuaraan berikutnya. Puncaknya ia berhasil mengantongi 100 kemenangan di Dutch TT 2009 sepanjang karirnya.

Pembalap yang hobi memelihara anjing ini kembali menjadi sorotan publik saat ia memutuskan untuk meninggalkan Yamaha dan pindah ke Ducati. Namun ia tidak bermain cemerlang di musim 2011-2012 akibat beberapa faktor seperti kecelakaan. Ia terjatuh di kejuaraan Valencia usai ditabrak oleh Alvaro Bautista dan harus puas berada di posisi ketujuh dunia. Rossi akhirnya kembali ke tim Yamaha pada musim berikutnya. Ia kemudian berhasil merebut juara pertama di Grand Prix Assen usai mengalahkan Dani Pedrosa, Juni 2013.

Rossi lagi-lagi mengejutkan publik di akhir 2013. Tiba-tiba saja ia mengumumkan berpisah dengan kepala teknisinya, Jeremy Burgess, yang telah mendampinginya selama 13 tahun. Beberapa media meyakini bahwa Rossi tersinggung dengan perkataan Burgess sebelumnya yang menyatakan bahwa ia tak akan pernah menang lagi.

“Dia tak akan menang lagi, akan menjadi keajaiban jika dia menang,” ungkap Burgess dalam wawancara sebelumnya. “Saat anda berusia lebih muda ada beberapa hal yang namanya keberanian atau nyali untuk mengambil resiko dan itu perlahan menghilang saat kita beranjak tua.”

Rossi kemudian mengangkat Silvano Galbusera sebagai kepala teknisinya yang baru menggantikan Burgess. “Aku bertemu dengan Silvano tahun 2010 saat berlatih dengan R1 Superbike di Misano,” cerita Rossi. “Aku menjalin hubungan yang baik dengannya, kurasa ia memang orang yang tepat.”

Julukan Valentino Rossi

Dalam karir balapnya, Rossi selalu berganti julukan dan melakukan hal-hal yang menarik perhatian serta menghibur. Ia beralasan bahwa semua itu dilakukannya dengan niat bersenang-senang dan melakukan sesuatu yang lucu. “Rossifumi”, julukan Rossi yang diberikan oleh temannya saat Rossi membalap di kelas 125cc. Julukan ini tercipta karena Rossi kagum dengan pembalap Jepang yang khas dengan rambut panjangnya, Norick Abe. Tahun 2004, Rossi dan Abe sama-sama membela Yamaha. Rossi berada di tim Gauloises Fortuna Yamaha Team sedangkan Abe di Fortuna Gauloises Tech 3 Yamaha Team.

“Valentinik”, julukan ini berasal dari tokoh kartun “Daffy Duck” yang menjadi “superhero” di Italia bernama Paperinik. Julukan ini dipakainya pada saat membalap di kelas 250cc. Julukan lainnya adalah “The Doctor” setelah ia naik di kelas 500cc pada musim 2000. Pada akhir musim 2003 menjelang musim 2004, Valentino Rossi membuat keputusan untuk hijrah dari tim pabrikan Honda, Repsol Honda HRC. Ia memilih bergabung bersama tim Yamaha yang terakhir meraih juara dunia pada tahun 1992 melalui pembalap Wayne Rainey. Rossi tidak pindah ke tim Yamaha sendirian, ia juga membawa Jerremy Burgess, kepala mekaniknya yang dahulu juga menangani Doohan dan Criville. Mereka melakukan serangkaian tes membenahi teknologi motor Yamaha YZR M1 milik Rossi agar mampu menandingi motor terkuat di Moto GP saat itu, RC211V milik Honda.